Oct 14, 2009

Omooooo

Omo...Help...I need help... I need help... I need help...

Bakalan jadi story yang menyedihkan buat masa depan gw kalo gw gagal di situasi ini. HELP!!!

Confuse

When confuse on something, did you ever asking someone that you trust that much? I did. But sometimes I didn't. Confuse on my head, always go ahead around it. Yea...
Sometimes, even if we are an expressive person, we just couldn't share anything we want, right?

Honestly, an expectation to tell something to someone is rising up. But when the feeling comes, the situation doesn't come perfectly...

>>> nTAN @ Admin

A dissappointed

Have you ever feel a dissappointed to something that you was belong to be??? It doesn't mean that you feel mad to THE CREATOR. But, something you couldn't tell to anybody. A little dirty secret, a dissappointed thing.

Something missed, something lost, and something didn't come in the right time.

Have you ever imagine that something or everything you want was not always come in the right time and on the right place???

I did. But have you try to Thank God for everything He gave to you???

>>> nTAn @ Admin

Oct 13, 2009

Stress Syndrome and Manage It

Pernah merasakan stress, depresi, dan frustasi yang berlebihan? Dengan alasan dan latar belakang apapun, pernah merasa kalau diri kita memiliki sindrom stress dalam diri??? Setiap orang punya beribu alasan untuk merasakan ini.

Memanage stress bukan hal yang gampang. Sulit. Apalagi jika ego dan emosi yang bercampur di dalamnya. Dijamin stress akan tambah parah...

Lalu bagaimana?

Satu hal yang bisa jadi solusi pertama. Dengarkan musik favorit. Karena dengan musik, mood akan berubah menjadi lebih baik, dan kadar stress dalam diri menurun. Gag percaya? Coba pasang musik favorit kalian di telinga, perhatikan dan resapi dengan baik. Resapi dengan sangat perlahan. Kalau perlu sambil menutup mata. Resapi dan resapi.

Kalau dengan musik belum berfungsi, tonton film favorit kamu! Apapun itu, tonton saja. Asal bukan P*** film aja. Bisa tambah stress ntar. Film komedi ringan dan menggelitik bisa mengembalikan mood yang jelek dan hilang. Tontonan yang tidak membuat penontonnya berpikir rumit, bisa jadi bahan penghilang stress.

Nonton film belum juga jadi solusi? Pergi ke tempat yang kamu suka. Mall, taman, resto, cafe. Wherever, asal mood kamu balik.

Gag berhasil??? Kalo gitu mengurung diri di kamar sambil bermuhasabah mungkin akan lebih baik... :)


>>> nTAn @ Admin

FESTIVAL KEBUDAYAAN KOREA DI JAKARTA

Ada info penting dan seruuuuuuuuu

Kedutaan Korea Selatan bekerja sama dengan Indonesia mengadakan Festival Kebudayaan Korea di Jakarta. Berikut ini jadwal rangkaian acara kebudayaan Korean Cultural Week, menurut rilis yang diterima Vibizdaily. Kegiatan akan dielenggarakan mulai hari ini, Jumat (9/10) dan berakhir 18 Oktober 2009

9 Oktober 2009 (pukul 17.30 – 21.00 di Balai Kartini, Jakarta)
Pertunjukkan seni Korea, tarian, musik dan istrumen. Pertunjukkan kesenian oleh orang-orang Indonesia. Ada pula pertunjukkan B-boy (yang menggabungkan break dance dengan music tradisional Korea). *acara ini sangat menyebalkan katak seorang teman yg datang, karena banyak fans alay, gw mikir gmn klo artis beneran yg datang?? *

13-18 Oktober 2009 (di Blitzmegaplex Pacific Place) ditayangkan lima film Korea, yaitu “The Divine Weapon”, “Beyond The Years”, “Christmas in August”, “Seven Days”, dan “The Show Must Go On”.

13-18 Oktober 2009 (di Museum Nasional Indonesia) dipamerkan 100 jenis bordiran khas Korea. Acara pameran akan dibuka Selasa, (13/10) pukul 13.00.

16-18 Oktober 2009, bertempat di Grand Indonesia, West Mall, lantai 3A dipamerkan produk-produk agrikultur Korea, seperti ginseng, pir, apel, got-gam). Ditampilkan juga produk kehutanan Korea (jamur, jat, dan kenari) dan demo makanan Korea.

15 Oktober 2009, bertempat di Usmar Ismail Hall, pukul 19.00-20.00 pertunjukkan Musisi Korea di Indonesia dan musisi jazz Indonesia.

13 Oktober 2009, bertempat di Universitas Indonesia, pukul 08.00-16.30 dipresentasikan dan diadakan diskusi pendidikan di Korea dan Indonesia.

13 Oktober 2009, bertempat di Ballroom Intercontinental Hotel, pukul 18.00-21.00 diadakan acara kebersamaan Indonesia dan warga Korea di Indonesia juga ditampilkan tarian tradisional Korea dan Indonesia. *acara makan2*


Informasi dan keterangan lebih lanjut dapat menghubungi Kedutaan Korea di Jakarta: Jalan Jenderal Gatot Subroto, Kav. 57, Jakarta 12950. Telepon (021) 5201915 dan Fax (021) 5254395

Yang mao datang,...hayuuuukkkk....

nTAn @ Admin

>>> Credits: KI

Have You Ever

Have you guys ever thinking about loneliness???
It seems scary for several people. For you??
I feel it same while I was feel alone. It scared me, and made me fight by myself. I don't know where to go, and I don't know how to be.
Loneliness is always be a huge word teach me, how bad and wonderful the world is.

Have you guys ever thinking about loneliness all by yourself???
Loneliness is just a loneliness.When someone needs to be just alone. Just alone. And just alone. But loneliness for me, is also a damn situation...

nTAn @ Admin

Diary untuk Tuhan ~Dialog Ku dan A Po ~Part 6~

"A Po kelihatannya benar-benar haus, ya?" Aku menggoda A Po.
A Po hanya tersenyum sambil sejenak menatapku, lalu kembali ke aktivitasnya: dengan lahap meminum air sungai yang jernih.
A Po. Anak kecil ini, ya, semalam aku memang menemukannya, dan ku putuskan untuk menemaninya malam ini, dan melalui malam-malam berikutnya bersama. Mungkin saja bisa membuat perasaannya membaik. Ku harap begitu.
Aku terus memandangi tubuh mungil A Po yang penuh guratan luka. Sepertinya luka-luka itu sudah menempel di sana berhari-hari tanpa pernah dibersihkan. Sungguh anak yang malang, Tuhan.
"A Po, lapar tidak?" A Po masih belum ingin memperhatikanku. Tangannya masih sibuk menepuk-nepukkan air segar itu ke wajahnya. "A Po..." Panggilku sekali lagi.
A Po pun akhirnya menoleh, aku hanya tersenyum kecil.
"Iya, A Po sedikit lapar, Kak. Dimana kita bisa temukan makanan?"
A Po mencoba memperhatikan belantara yang mengelilingi kami. Aku melakukan hal yang sama. Tidak ada yang bisa kami manfaatkan di sini, sepertinya. Belantara yang tandus.
Aku segera berdiri dan mengulurkan tangan, "Yuk", ajakku.
A Po pun beranjak dari posisinya, dan bersamaku berusaha menemukan 'sesuatu' untuk diolah dan dijadikan sumber tenaga baru.
Di tengah perjalanan kami, A Po yang masih sedikit terpincang mulai berceloteh,
"A Po sedih. Apa Kakak tau itu?"
Aku menoleh ke arahnya, sambil menggandeng lembut tangan mungilnya.
"Sedih? Apa yang A Po sedihkan? Kakak ada di sini sekarang." Raut wajah itu kembali lagi. Mata sembab itu datang lagi. A Po menundukkan kepalanya dengan gontai.
"A Po ingin kembali seperti dulu. Seperti dulu A Po pertama kali dilahirkan. Di saat semua orang bersorak menyambut kehadiran A Po. Di saat semua orang bergembira melihat A Po yang pertama kali menghirup udara dunia."
A Po menghela napas cukup panjang.
"A Po yang masih sekecil ini, masih belum siap menerima semuanya, Kak."
Semakin aku mendengarkan keluhannya, semakin aku tidak mengerti, Tuhan.
"A Po rasa, ini waktunya untuk A Po belajar dewasa. Ya, di umur A Po yang masih sekecil ini, A Po harus mulai dewasa. Meski A Po juga tidak tau betul arti dari dewasa itu apa, Kak." Hhhmmmm...
Aku pun tersenyum getir. Pikiran apa yang sedang merasukinya, ya.
"A Po, mulai sekarang, lupakan semua kegetiran yang pernah A Po rasakan. Di sini ada Kakak. Dan mulai sekarang, A Po tidak akan sendirian lagi. Tidak akan kesepian lagi. Percaya sama Kakak."
Aku berikan senyuman terbaikku untuknya. A Po membalas senyumanku cepat.
"A Po sayang Kakak." Sekejap langkah kaki kami terhenti, dan A Po memelukku erat.
Ya Tuhan, aku tidak ingin peristiwa buruk kembali menimpa A Po. Meski Ia belum mau bercerita tentang semuanya dengan terbuka, setidaknya aku ingin bermanfaat untuknya, Tuhan.


nTAn @ Admin

Aug 15, 2009

Diary untuk Tuhan ~Dialog Ku dan A Po Part 5~

Diary untuk Tuhan -Dialog Ku dan A Po Part 5-

Setelah sekian hari berada di belantara yang sama dengan A Po, beberapa hari ini aku hilang kontak dengannya. Ada apa dengan anak kecil ini, Tuhan? Apa Ia sedang menderita kali ini? Atau malah bersenang-senang dengan kebahagiaan kecilnya?

Ku susuri belantara nan tandus ini di malam hari. Hanya seorang diri. Dan kali ini, bukan A Po yang menemaniku. Melainkan auman harimau dan seringai serigala yang coba menyapaku. Ku pikir hal ini sudah biasa, Tuhan.

Setapak demi setapak ku lalui. Mencoba menerka keberadaan A Po. Meski tidak nampak sedikit pun. Kini hatiku yang mulai bertanya dan gundah. Kemana A Po?

"Ahhh... Ahhh..."

Oh Tuhan, ada raungan kecil terdengar. Suara itu tidak seperti suara yang ku kenal memang. Tapi suara itu begitu dekat.

Aku paksa kakiku melangkah, mencoba mencari dan mendekati asal suara. Semakin ku dekati, mengapa suara itu makin menghilang?

Ku hentikan langkahku. Berkonsentrasi mendengar dengan lebih pasti. Raungan itu berhenti. Tapi aku belum berhenti penasaran, Tuhan.

Aku coba berpikir. Sambil membungkukkan badan dan mencari, ku temukan sesosok tubuh kecil terkulai lunglai di atas tanah yang lembab karena udara dingin.

Ya Tuhan, itu tubuh A Po. Tubuh anak kecil yang tengah ku cari.

Aku mendekati tubuh itu. Sepertinya A Po sudah pingsan, Tuhan.

Aku panik. Ku goyangkan tubuh A Po berkali-kali. Berusaha menenangkan diriku bahwa A Po masih hidup.

Ku dekatkan telingaku ke dadanya, berharap detak jantungnya masih terdengar.

Aku juga memeriksa nadinya dengan ibu jariku, juga berharap nadinya masih berdegup.

Beberapa saat, detak jantung itu menghilang. Sirna. Aku benar-benar panik kali ini, Tuhan. Apa yang harus ku lakukan?

Setelah sekian lama berusaha dan berdoa, syukurlah...Detak jantung A Po kembali. Namun Ia belum sadar juga. Ada apa sebenarnya ini?

Uhuk-uhuk.
A Po terbatuk. Aku mencoba menaruh badannya di pangkuan pahaku.

"A Po..." panggilku pelan.

A Po masih tidak menyahut. Aku semakin khawatir, Tuhan.

"A Po..." Mata A Po mulai berkerjap. Terselip sedikit rasa lega di dadaku. Syukurlah.

Uhuk. "Kakak?" A Po langsung mengenaliku. "Kenapa Kakak bisa ada disini?"

"Kakak mendengar rintihanmu tadi. A Po, kenapa bisa pingsan?"

"A Po lupa. Yang A Po ingat, ada auman binatang buas. Dan terjadi begitu saja."

"Mama Papa A Po mana?"

A Po menggelengkan kepalanya. Mata sembabnya bertambah kusut. Malangnya anak ini, Tuhan.

"A Po semalam berpisah dengan Mama dan Papa. Mungkin mereka sudah mulai tidak menginginkan A Po..."

Ya Tuhan, mengapa anak sekecil ini bisa berpikiran seperti itu?

"A Po...Tidak boleh berkata seperti itu, ah." Aku mencoba menenangkannya.

"A Po...masih tidak mengerti pikiran orang dewasa. A Po masih belum mau mengerti pikiran mereka, perasaan mereka. A Po masih ingin menjadi anak kecil yang bisa bermain di dunia A Po yang kecil ini, Kak."

A Po mulai tersedu, tersedan. Seketika Ia menangis di pelukanku.

Seperti biasanya, aku hanya bisa menenangkannya, tanpa bisa berbuat banyak. Anak sekecil ini, sebenarnya apa yang tengah Ia hadapi, Tuhan?



Diary untuk Tuhan ~Dialog Ku dan A Po Part 4~


Tuhan, malam ini saat aku merasa benar-benar sendirian, A Po menghampiriku. Saat ini aku dan A Po tengah bersama di suatu tenda di dekat hulu sungai.

A Po terlihat begitu gembira. Baru kali ini aku melihatnya tertawa lepas seperti itu. Mungkin hatinya kali ini sedang bebas ya, Tuhan.

Aku dan A Po bercengkrama dengan gembira malam ini. Anak kecil yang menyenangkan.

Tak berapa lama kami saling menggelitik tawa, A Po yang polos itu tiba - tiba seperti biasa melontarkan pertanyaan - pertanyaan polosnya.

" Kak, apa Tuhan menciptakan makhluknya dengan penuh rencana? "

" Loh, mengapa A Po tiba - tiba bertanya seperti ini? "

A Po menatapaku usil dan tersenyum. Ia lucu sekali, Tuhan.

" Tuhan punya rencana pada tiap makhluk - Nya. Dan itu pasti. Dari Mama dan Papa A Po belum bertemu pun, Tuhan sudah punya rencana istimewa untuk mengirim A Po mengisi kegembiraan di dunia ini. "

" Apa benar, Kak? "

Dasar A Po. Aku hanya bisa tertawa kecil.

Diary untuk Tuhan ~Dialog Ku dan A Po Part 3~


Tuhan, di dua malam yang lalu, saat aku berjalan sendirian menyusuri padang pasir di tengah gurun itu, untuk kesekian kalinya aku berjumpa lagi dengan A Po. Aku menghampirinya. Ia sedang menangis, Tuhan.

"A Po." Aku memanggilnya. Ia sangat sesenggukan. A Po melipat pundaknya, dan terus menangis di atas gundukan pasir itu. Sepertinya, beban berat mampir ke pundaknya, Tuhan.

A Po tidak menghiraukanku. Ia terus saja menangis. Aku kebingungan menenangkannya. Ia tidak bicara, juga tidak berhenti membanjiri padang rumput ini dengan air matanya.

" A Po." Aku mencoba memanggilnya sekali lagi.

Tapi sekali lagi pula Ia mengacuhkanku. Anak yang malang, pikirku.

Mata A Po memerah. Bawah kelopaknya juga menebal. Pipinya terasa membengkak. Hidungnya pun memerah. Anak sekecil ini, apa yang sedang Ia rasakan, Tuhan?

Malam itu, tubuh A Po menggigil. Dingin sekali. Padahal tidak sedikit keringat yang mengucur dari leher dan badannya. Apa mungkin Ia sakit?

Aku rasa tidak, Tuhan. Sepertinya, A Po benar - benar merasakan kelelahan yang teramat dahsyat akan sesuatu.

"A Po. Ini Kakak."

Mungkin dengan mengingatkanku, A Po bisa sedikit terhibur ya, Tuhan. Ya, aku harap begitu.

"A Po."

Awalnya, panggilan keseskian ini memang diacuhkannya. Syukurlah, kali ini Ia mau sedikit melihatku.

"Kakak."

Seketika itu juga A Po memelukku, dan memegangiku erat. Aku tahu benar, anak ini merasakan sesuatu yang berat. Tangisannya semakin keras di pelukanku, Tuhan.

"A Po, ada apa? A Po bisa cerita sesuka hati A Po, pada Kakak. Ada Apa, sayang? "

Aku merayu A Po, berusaha ingin tahu.

"Kakak."

A Po terus memanggilku saja. Tidak bicara yang lain. Aku yang hanya bisa tersenyum, juga hanya bisa menjadi tempatnya menangis saat ini. Mungkin baru ini yang bisa kulakukan sekarang.

Hampir satu jam, aku berusaha menenangkan A Po. Di detik berikutnya, A Po melepaskan pelukannya dan mencoba menyeka air matanya, kemudian bercerita kepadaku.

"Kak."

Aku membenarkan posisi dudukku, dan berusaha mendekat pada anak kecil ini, Tuhan.

"A Po..." Suaranya masih sesenggukan. "A Po merasa, kadang A Po merasa lelah ada di sini. Meski A Po tahu, dosa kalau A Po bicara seperti itu."

"Kalau A Po tahu, kenapa A Po bicara seperti itu?"

"Kak, A Po bingung A Po harus bagaimana. A Po hanya anak kecil. A Po belum mengerti banyak hal. Tapi semua ini benar-benar menguras pikiran A Po, Kak."

Tuhan, malang benar anak kecil ini.